MALANG – Warisan leluhur kembali dihidupkan masyarakat Desa Sumberporong, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Nuansa budaya dan semangat kebersamaan menyatu dalam Kirab Sumberporong untuk Nusantara 2026 yang digelar di Balai Desa Sumberporong, Minggu (9/8/2026).
Mengangkat tema “Pelestarian Nilai Kearifan Lokal Tradisi Jabutan Ancak sebagai Kapabilitas Strategis Organisasi”, kegiatan ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk merawat tradisi sekaligus mengenalkan nilai-nilai budaya kepada generasi penerus.
Kirab tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian bersih desa dan momentum menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Warga dari berbagai unsur turut ambil bagian, menjadikan kegiatan berlangsung meriah dan penuh semangat gotong royong.
Sejumlah tokoh dan pejabat turut hadir, di antaranya Bupati Malang HM Sanusi bersama Ibu Hj. Anis Zaidah, Sekda Kabupaten Malang Budiar beserta jajaran kepala dinas, perwakilan Kapolsek Lawang Iptu Irwansyah Buana, Danramil Lawang Kapten Kacunk, Camat Lawang Nur Soleh Hidayat, S.STP., MM., anggota DPRD Kabupaten Malang dari PKB Nur Mutiah Faridah, serta Kepala Desa Sumberporong Hj. Idhiningrum Budayaningtyas, S.Sos., SH., MM., beserta jajaran.

Kehadiran FKKPI, Banser, RAPI, Cak Hari Prabu dan masyarakat Desa Sumberporong turut menambah semarak acara.
Bupati Malang HM Sanusi menyambut positif kegiatan yang dinilai mampu memperkuat budaya sekaligus membuka peluang pengembangan potensi desa.
Sanusi berharap kegiatan tersebut tidak hanya memberikan keberkahan bagi masyarakat, tetapi juga mampu mendorong sektor pariwisata dan UMKM di Kabupaten Malang, khususnya Desa Sumberporong.
“Semoga acara ini menjadi keberkahan, bisa meningkatkan pariwisata dan UMKM. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada penyelenggara acara,” kata Sanusi.
Sementara itu, Kepala Desa Sumberporong Hj. Idhiningrum Budayaningtyas mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian masyarakat terhadap keberlangsungan kearifan lokal.
Menurutnya, tradisi bersih desa tidak selalu digelar setiap tahun. Pelaksanaannya menyesuaikan kesempatan dan kesepakatan masyarakat.
“Ini salah satu pelestarian kearifan lokal. Acara ini adalah bersih desa. Memang tidak satu tahun sekali, tetapi dua, kadang tiga tahun sekali kita rayakan berdasarkan kesempatan masyarakat,” ujarnya.
Bagi Idhiningrum, mempertahankan tradisi bukan hanya tentang menjaga sebuah ritual agar tetap berlangsung. Yang jauh lebih penting adalah memastikan generasi muda memahami, mencintai, dan merasa memiliki budaya yang diwariskan para leluhur.
“Harapannya agar generasi muda kami mulai mau mencintai warisan leluhur kita, yaitu budaya dan tradisi,” ungkapnya.
Menurutnya, perkembangan zaman tidak boleh membuat generasi muda semakin jauh dari akar budayanya. Karena itu, kegiatan semacam Kirab Sumberporong menjadi salah satu cara untuk mempertemukan generasi muda dengan nilai-nilai luhur yang selama ini hidup di tengah masyarakat.
Selain melestarikan budaya, kegiatan tersebut juga menjadi momentum mempererat persatuan warga sekaligus memperingati HUT ke-81 RI.
Idhiningrum menegaskan Pemerintah Desa Sumberporong bersama masyarakat akan terus menjaga kekompakan dan berkontribusi dalam mendukung pembangunan daerah.
“Saya bersama warga masyarakat Sumberporong akan terus semangat menyukseskan program-program Kabupaten Malang,” tegasnya.
Kirab Sumberporong untuk Nusantara 2026 akhirnya bukan sekadar perayaan budaya. Di balik kemeriahan kegiatan, tersimpan pesan penting bahwa tradisi akan tetap hidup ketika masyarakat mau menjaga, generasi muda mau mengenal, dan semua pihak bersedia memberi ruang bagi kebudayaan untuk terus tumbuh.
Dari Sumberporong, kearifan lokal kembali disuarakan: budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi identitas yang harus dibawa menuju masa depan.
(Ananta)














