BANYUWANGI – Komitmen kuat dalam melestarikan tradisi leluhur kembali ditunjukkan Pirukunan Ayu Mardi Utomo (PAMU) melalui penyelenggaraan peringatan Mahargya Tumapaking Warsa Enggal 1 Suro 1960 (1448 H–2026) di Dusun Tojo Kidul, Desa Temuguruh, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, jumat (19/6/2026).
Kegiatan yang telah menjadi agenda tahunan PAMU tersebut kembali menyedot perhatian masyarakat dari berbagai daerah. Ribuan warga hadir untuk mengikuti rangkaian acara yang sarat nilai budaya, spiritualitas, dan kebersamaan.
Sebagai organisasi yang selama ini konsisten merawat tradisi Jawa, PAMU tidak hanya menjadikan peringatan 1 Suro sebagai seremoni pergantian tahun, tetapi juga sebagai ruang edukasi budaya sekaligus upaya menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur kepada generasi penerus.

Berbagai prosesi sakral digelar dalam kegiatan tersebut, mulai dari jamasan pusaka, nembang Mocopat Suluk Limo, wilujengan nggarap berkah, hingga pagelaran wayang kulit yang menjadi puncak acara. Seluruh rangkaian berlangsung khidmat dan penuh makna, mencerminkan kuatnya semangat masyarakat dalam menjaga warisan budaya Jawa.
Ketua Umum PAMU, Cokro Wibowo, menegaskan bahwa peringatan 1 Suro merupakan momentum penting untuk memperkuat kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga budaya sebagai bagian dari jati diri bangsa.
“PAMU berupaya agar tradisi yang diwariskan para leluhur tetap hidup dan bisa dinikmati generasi sekarang maupun yang akan datang. Budaya harus terus dirawat karena di dalamnya terkandung nilai kebersamaan, kearifan, dan tuntunan hidup,” ujarnya.
Keberhasilan PAMU dalam menjaga keberlangsungan tradisi tersebut mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Wakil Bupati Banyuwangi, Ir. H. Mujiono, yang hadir dalam kegiatan itu menyampaikan penghargaan atas dedikasi PAMU dalam merawat budaya di tengah perkembangan zaman.
Menurutnya, konsistensi PAMU selama bertahun-tahun menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan kehidupan masyarakat modern tanpa kehilangan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
Selain menjadi ajang pelestarian budaya, kegiatan ini juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Kehadiran ribuan pengunjung membuat pelaku UMKM, pedagang makanan, minuman, dan kerajinan lokal memperoleh manfaat dari meningkatnya aktivitas ekonomi selama acara berlangsung.
Salah satu agenda yang paling dinanti adalah Grebeg Tumpeng Agung. Dalam prosesi tersebut, masyarakat berebut gunungan tumpeng yang telah didoakan sebagai simbol keberkahan, keselamatan, dan kemakmuran. Antusiasme warga begitu tinggi hingga seluruh isi tumpeng habis dalam waktu singkat.
Melalui penyelenggaraan Mahargya Tumapaking Warsa Enggal 1 Suro 1960, PAMU kembali membuktikan perannya sebagai salah satu komunitas budaya yang konsisten menjaga, merawat, dan menghidupkan tradisi leluhur. Di tengah arus modernisasi, keberadaan PAMU menjadi garda terdepan dalam mempertahankan identitas budaya sekaligus memperkuat nilai gotong royong dan spiritualitas di tengah masyarakat.
(Ananta)














